"Jangan melangkah dijalan keputus asaan. Di alam ini terhampar berjuta harapan, Jangan pergi ke arah kegelapan, Di alam ini terdapat banyak cahaya"
Putus asa simbol ketidakberdayaan dan gelap adalah simbol kesesatan. Dalam hidup ini ternyata ada orang orang yang lebih cenderung asyik dengan keputus asaan, kekecewaan dan kehilangan harapan. Meskipun kalau mau ia bisa mendapat banyak keadaan yang membuatnya optimis, bersemangat dan penuh harapan. Ternyata memang ada pula sekelompok orang yang cenderung asyik berada dalam gelap, meskipun kalau mau ia bisa mengetahui betapa luasnya hidup dan betapa banyak cahaya yang bisa menerangi jalan di hadapannya.
Sederhana saja jawaban Ibnul Qoyyim ketika ditanya tentang sumber kebahagiaan hidup "ALLOH" . Orang yang telah memiliki rahasia kebahagiaan itu menurut Imam Ibnul Qoyyim telah mendapatkan kebahagiaan di Dunia dan Akhirat. Di dunia orang itu DISEGERAKAN OLEH ALLOH MEMPEROLEH SURGA DUNIA, DI AKHIRAT ALLOH MENYEDIAKANNYA SURGA AKHIRAT.
Hatinya memandang, kefakiran adalah kekayaan saat bersama Alloh, dan memandang kekayaan itu kefakiran saat dirinya tidak bersama Alloh, KEMULIAAN ITU HINA TANPA ALLOH. Kehinaan itu mulia bersama Alloh. Kenikmatan itu adzab tanpa Alloh. Adzab itu nikmat bersama Alloh. Kesimpulannya tidak melihat kehidupan kecuali dengan Alloh.
"merekalah orang orang yang telah mendapatkan dua syurga. Syurga di dunia yang disegerakan Alloh ketika ia hidup di dunia, dan surga di akhirat yang menantinya." (Kitab Al-Fawaidh)
Kebenaran memandang hidup itulah yang menjadikan seseorang memiliki ketenangan jiwa, ketentraman, kebahagiaan, perasaan lezat dengan iman. Seperti diungkapkan Ibnul Qoyyim, " orang orang seperti ini tidak merasa gelisah ketika orang lain gelisah, tidak takut ketika orang lain takut, tidak menangis ketika orang lain menangis, wajah dan hati mereka bersinar karena cahaya Alloh, Lisan mereka tidak lepas dari dzikir kepada Alloh, hati mereka lekat dengan masjid.
Keputus asaan bisa terjadi tanpa disadari, begitupun kegelapan, kegelapan kerapkali melalaikan, seperti orang mabuk, tak sadar dirinya mabuk, keburukan selalu menarik pelakunya untuk melakukan keburukan yang lain, dan membuat pelakunya lupa akan apa yang telah diperbuat atau bahkan membuatnya tak merasakan itu sebagai dosa atau keburukan.
Syaikh Muhammad Ahmad Rasyid, penulis kitab Al-Awaiq mengisahkan sebuah ironi,
"saya telah menyaksikan langsung bagaimana orang orang yang berada dalam komunitas kebakan kemudian mengundurkan diri dari lingkungan itu, ia kecewa dan putus asa karena keinginannya tidak ia peroleh, selanjutnya orang itu mulai tidak melakukan amar ma'ruf, lalu meninggalkan shalat wajib, dan kemudian ia tidak melakukan puasa di bulan Ramadhan, bahkan terbiasa melakukan sesuatu yang membatalkan puasa di siang hari, merokok, dan akhirnya ia menghisap rokok dengan tenang dan menghembuskan asapnya pada orang orang yang berpuasa..." selalu begitu satu keburukan merembet pada keburukan keburukan setelahnya.
Iman dalam hati ibarat pelita, bila cahayanya redup berati kita larut dalam kegelapan, dan kehilangan petunjuk dalam menjalani kehidupan. maka lazimlah mengapa kadang satu perkara serasa samar dan gelap, muhasabah lagi kondisi iman kita.
Seorang ulama bernama Bakar bin Abdillah Al Muzani menegaskan
"siapa yang bisa menandingi mu wahai anak adam dalam bertaubat? engkau bisa datang ke mihrab kapanpun engkau mau, untuk menghadap Tuhanmu, tak ada yang membatasi antara dirimu dan Tuhanmu, tak ada perantara, tak perlu penterjemah.
namun kadangkala, suatu ketika mungkin kita pernah berpikir, betapa berat dan kerasnya perjalanan hidup ini, saat hati seolah tak mampu lagi menahan beban masalah, saat kita merasa lunglai, saat mata tak sanggup menahan tetesan air mata, saat semua terasa sangat gelap, dan seolah diri sangat lemah. namun itu semua bukan tanda tanda kelemahan yang patut disesali, sebab manusia memang diciptakan serba lemah.
Buya Hamka pernah berkata bahwa tingkat cobaan iman itu ibarat anak tangga yang bertingkat-tingkat, tiap satu anak tangga di naikki datang seribu pukulan dari bawah mengenai tubuh orang yang mendaki, kalau tangannya kuat bergantung, kalau kakinya kuat berpijak, kalau pikirnya tetap waspada pukulan itu malah akan menaiikannya ke tangga yang lebih tinggi, namun bila sebaliknya kalau tangannya lemah, kakinya tak kuat akalnya hilang, pikirannya kusut, maka pukulan itu akan menjatuhkan dan merobohkannya, yang akan sangat disayangkan kalau ia tak hanya jatuh satu dua buah anak tangga tapi jatuh ke anak tangga jauh dibawahnya, atau bahkan saking lemahnya ia tak mampu bangkit lagi.
Dalam ungkapan lain Imam Hasan Al Basgri mengatakan, dalam keadaan badan sehat dan hati senang, semua orang mengaku beriman, tetapi setela datangnya cobaan barulah diketahui kebenaran pengakuannya itu,Orang yang ingin permintaannya cepat terkabul hari ini dan tidak sabar menunggu itulah orang yang lemah iman.
Jangan pernah kalah oleh beratnya cobaan hidup, TIDAK SEMUA PERMINTAAN KITA HARUS DIKABULKAN, Krena Alloh lah yang lebih mengenal bathin kita daripada kita sendiri, Imam Ibnul Qoyyim memberi permisalan, seeperti seorang anak kecil yang bersedih karena belum pantas di beri uang melebihi kekuatan akalnya, padahal BELUM TENTU IA BAHAGIA BILA KEINGINANNYA TERKABUL. teka teki hidup ini sangat banyak, JANGAN PERNAH MENYANGKA ALLOH LEMAH MENOLONG HAMBANYA.
Lalu kapan pertolongan Alloh itu?Ibnu Athillah memberi pengarahan dalam hal ini..
" ampilkan dengans esungguhnya sifat kekuranganmu, niscaya Alloh menolongmu, dengan sifat sifat kesempurnaanNya, bersungguh sungguhlah dengan kehinaanMU nisacaya ia menolongmu dengan kesempurnaanNya. Bersungguh sungguhlah dengan ketidak berdayaanmu niscaya Alloh akan menolong dengan segala KekuatanNya."
"adalah hak bagi Kami, menolong orang orang yang beriman" (QS Ar-Ruum : 47)
Sedetikpun Alloh tak akan meninggalkan hambanya yang beriman, dan jika ia berkehendak tak ada yang dapat menghalangi turunnya pertolongan dan bantuanNya, masalahnya hanya ada pada proses turunnya pertolongan dan bantuan itu, karenanya sekali lagi, Jangan pernah kalah dengan cobaan.
:: Disarikan dari buku MENCARI MUTIARA DIDASAR HATI oleh Ustd. Muhammad Nursani, Judul 1 dan 2::
_buku yang diserahkan fitrah (adik saya) suatu sore ketika ia tau saya membutuhkan buku ini untuk memperbaiki banyak persepsi_
:: Thanks bruder::


Tidak ada komentar:
Posting Komentar