Kamis, 27 Agustus 2009

Akhwat dengan 0% Pesona

Tadinya saya bingung, kepikiran hal ini di metromini tadi.. setelah dapat curhat by email seorang adik kelas.

saya mau coba pakai kata 'kami', berusaha menyuarakan beberapa hati saja, tak bermaksud pukul rata, tapi sering saya temui hal ini, paling tidak pernah ada di kepala saya.

Kami akhwat dengan 0% pesona, seperti sabda Rasululloh, seorang wanita dinilai dari empat hal, nasab nya, kecantikannya, hartanya dan yang paling utama agamanya.

kami akhwat dengan 0% pesona, dari nasab. Orang tua kami cukup keren dan terkenal, keren dimata kami, terkenal di gang rumah kami. Ayah ibu kami bukan direktur sebuah perusahaan, pegawai biasa saja, ayah ibu kami bukan orang yang faqih dalam agama, pengetahuan islamnya biasa saja, tapi saya pribadi merasa mereka hebat dalam mendidik. dapat disimpulkan dari nasab, kami 0% biasa saja, ayah kami bukan pejabat, masyaikh dakwah apalagi bangsawan berharta banyak.


Dari cantik, kami 0% pesona, kami bukan typikal akhwat yang suka foto foto atau tag foto sana sini kalau di fesbuk, ga suka foto sambil senyum senyum sendiri, karena kami sadar kami tak cukup foto genik, kami bukan typikal akhwat yang berpusing pusing dengan fashion apa yang jadi trend, jilbab model apa yang banyak dipakai orang, kami bukan typikal akhwat yang berlama lama berdandan depan kaca kalu mau pergi keluar karena toh berlama lama tetap tak ada korelasinya dengan perubahan wajah, hanya ingin lebih rapi saja, kami akhwat dengan 0% pesona, amat bersyukur dengan hal ini, point ini, kami tak perlu khawatir ada hati yang terkotori karena dapat senyum kami padahal niat kami cuma senyum biasa aja, tak perlu ada yang patah hati karena kami "tolak cinta" nya, apalagi groak besar hatinya karena kami tolak proposal nikah nya (hahaha..lebaaaaaaayyy...)
, juga tak perlu pusing menghindar dari fans rahasia yang banyak meneror dengan sms, privat number, nomor tak dikenal, sms yang masuk hanya sms dari teman, telpon yang masuk dari keluarga, aman.
0% pesona dalam cantik membuat kami lapang kalau dijalan, tak perlu amat berhati2 dengan wajah kami, tak takut hitam, jerawat, komedo dan hal hal printilan lainnya. Dalam special occasion seperti ke walimah teman misalnya, kami tak bingung pakai baju apa, jilbab apa, sepatu yang mana, karena itu tadi, tak ada pengaruh besar dalam tampilan kami. kami seperti angin yang lewatnya diketahui tapi tak cukup perlu untuk disadari, ini sungguh membuat langkah kami ringan, aman dan terjaga.


Dari harta, kami 0% pesona, kendaraan kami angkutan umum, sepeda motor, ga ada lah list naik mobil pribadi, ga ngerti apaan sih SUV, MPV, power steering, dll. orang tinggal naik aja kalo mau pergi, atau tinggal dorong kalo motornya mogok. kami aman kalo kecopetan, uang yang di dompet cuma ongkos aja, ATM cuma seitu itu nya, ga ada kartu kredit, isi dompet paling uang beberapa lembar, KTP, KTM, Foto keluarga, SIM, STNK motor, kartu RS, sama ATM versi biasa, bukan yang gold apalagi platinum. ga pusing pusing blokir ATM ke bank A, bank B, urus hilang kredit card A, dll.


Dari Agamanya, kami juga 0%b pesona, kami akhwat yang amat biasa biasa saja, masih suka tergeragap untuk sholat malam karena ngantuk, masih suka bolong shaum sunnah, masih terengah engah tilawah 1 juz perhari, masih payah hapalannya, masih sedikit sedekahnya, masih lalai doa doanya, masih gampang banget futurnya, ini sih ga ada yang patut di syukuri, mesti ditingkatkan. no comment tambahan. (hehehe,,,)

itu kriteria Rasululloh. mau coba tambahin ahh, paling tidak untuk tulisan ini.

dalam segi kepandaian, kami mahasiswa biasa saja (setidaknya amat sangat bersyukur kami dapat kuliah), IP antara 2,5-3, dikit, dari jurusan yang umum umum bukan jurusan yang waah, yang membuat orang berdecak decak kagum seperti kedokteran misalnya, atau entah apalagi. dikelas kuliah kami bukan favorite dosen, kalau ada pertanyaan bisa jawab ya dijawab, ga bisa jawab ya diam aja, kami akhwat 0% pesona, ga gitu hobi sama karya ilmiah, penelitian, dll.

kalau kami ikut organisasi, kami akhwat 0% pesona, jarang jarang dapat posisi puncak karena kami tak begitu pandai memimpin. kami mudah patuh pada hasil musyawarah, karena kami sadar kami tak cukup punya kapasitas untuk menelikung atau mensiasati hasil musyawarah.

Dalam diskusi, kami bukan type penyanggah, kami bukan pelempar ide ide segar, maka dapat dipastikan kami mudah saja setuju dengan hasil diskusi kelas, dalam hal yang bukan prinsipil salahnya kami biasa saja. kami bukan typikal akhwat dengan mata berbinar binar, tangan lincah wajah tersenyum dalam menyuarakan ide, ide dan masukan kami sederhana saja, tak ada yang hebat. semua bisa menyuarakan.

Dalam bakat, untuk bakat setiap ada pertanyaan tentang bakat, kami selalu bingung dan agak lama menjawab, nyanyi cuma untuk dinikmati sendiri, nulis belepotan, diskusi biasa aja, apa ya saya bingung juga nih.

ada yang salah dengan 0% pesona ??
dari tarbawi edisi baru, saya belajar satu hal yakn tentang mensyukuri nikmat yang sedikit. mensyukuri nikmat yang sepintas biasa saja, padahal tak ada yang biasa dan sederhana dalam anugerah Alloh.

"siapa yang tidak mensyukuri yang sedikit, tidak mensyukuri yang banyak, siapa yang tidak bersyukur kepada manusia, tidak bersyukur kepada Alloh , Membicarakan nikmat Alloh adalah bentuk syukur dan meninggalkannya adalah kufur" (HR. Ahmad)

ya benar, kebersyukuran itu yang membuat seseorang akan lapang memiliki hidup sesedrhana apapun, tak perlu iri dan dengki walaupun kadang kehidupan orang lain seolah lebih bahagia dari apa yang kita miliki, apalagi nature dari seorang akhwat tetap saja seorang perempuan punya rasa dan ego yang lebih mengenai kepemilikan. padahal Alloh mengatakan, " Sesungguhnya kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran (Al-Qomar : 49)

tulisan ini benar benar terinspirasi dari Majalah tarbawi menghargai yang tampak apa adanya. saya, adik kelas saya merasa kami tak memiliki satupun keistimewaan dalam diri ini, tapi saya benar benar merasa tercerahkan ternyata dibalik 0% itu segala yang 0% itu Alloh memberikan banyak hikmah,,

"Maka janganlah kita bersedih hati karena ketidak mujuran yang menimpa kita, Karena hanya memperoleh yang biasa biasa saja. Karena keterbatasan yang kita terima. Karena karunia yang tampak apa adanya. Sebab ketentuan Alloh pun suatu saat mungkin akan "berbicara" bahwa kelebiha dan keberuntungan kita ternyata ada di situ, di sesuatu yang tampak apa adanya." (Majalah Tarbawi Edisi 210, Th 11)

yap.. bersyukurlah,, tak ada pilihan lain, semua yang nol akan menjadi tak berhingga bila dihadapkan pada mesin mesin hitung Alloh.

tak ada yang salah dengan 0% itu, tak ada yang salah dengan tidak cantik, tidak kaya, tidak pintar, tidak faqih (asala tetap mau belajar) setiap orang punya kapasitasnya, satu saja kata guru saya dalam satu sore "asal kan Alloh Ridho" lapang saja hidup ini, tak ada yang perlu dikhawatiri.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar