Kamis, 27 Agustus 2009

Satu Waktu di Stasiun Bekasi

Adalah tempat yang sangat saya akrabi sejak kecil karena saya suka sekali dengan kereta api, sebenarnya bukan karena suka aja sih, kereta api, membuat hidup saya lebih mudah, sarana angkutan yang cepat dan murah. Kalau dihitung-hitung hampir tiap hari selepas SMA saya naik keretapi. Hmmh.. tenggat waktu yang sedemikian panjang.



Stasiun.. mungkin sama dengan definisi konotasi dan denotasi, kata ini menurut saya punya citra afeksi tersendiri, sering digunakan sebagai tempat yang punya rasa tersendiri, ada yang menggunakannya sebagai tempat melepas kekasih, atau bahkan ada yang lebih tragis, menyambung hidup.



Seperti kemarin, entah untuk yang keberapa kali, pejabat atas di sana melakukan “tugas”nya bernama penertiban..yah seperti yang saya bilang tadi banyak fragmen hidup disana, termasuk seorang anak kecil, namanya nurul (sama dengan nama saya), mungkin hidup nya tak lebih beruntung dari saya, anak itu usianya baru genap 11 tahun, berjualan keripik pisang di stasiun (saya sekeluarga suka ngemil, jadi saya sering beli keripik pisang di tempat nurul). Nurul jualan gak sendirian ditemani adiknya yang sayang nya saya cuma tau dipanggil dedek aja, gak tau nama panjangnya. Setiap saya pulang kantor, mereka berdua berdiri disamping dagangannya sambil meneriakan keripik pisang yang mereka jual, yang harganya Rp. 5000,- saja.



Saya suka kasian kalo ngeliat mereka, mereka ternyata jualan di stasiun itu mulai dari jam 16.00-22.00, setelah mereka sekolah dan les, samapai kereta terakhir tiba.

Rentang waktu yang panjang untuk anak seusia itu bekerja. Hmmh.. miris.. seharusnya mereka tengah bermain, atau baca komik seperti hobi saya waktu kecil, atau berangkat ke TPA untuk mengaji.

Setelah beberapa kali tegur sapa saya memberanikan diri mengajak mereka ngobrol, dan sampai akhirnya saya janjian bertemu mereka malam ini,saya bilang:

“ nanti malam tunggu kakak ya, kakak bawa buku banyak, kamu tunggu sini aja ”,

dengan wajah yang gak bisa saya lukiskan mereka hanya menunduk malu-malu mengiyakan.



Yap hari itu ( tepatnya kemarin) saya bawa beberapa buku dan majalah bobo, karena pagi mereka belum jualan saya bawa semua buku itu ke kantor untuk diserahkan malam harinya..



Tapi.. hmh.. saya cukup kaget hari itu, saya baca di okezone ada penertiban pedagang besar-besaran di stasiun bekasi dan sampai ricuh, saya sedih banget.. gimana ya nurul sama adeknya, semoga nanti malam bisa ketemu…



Pulang kantor, ketika KRL yang saya tumpangi berhenti, seperti yang saya duga, mereka semua gak ada….



Tiang tempat nurul dan adiknya jualan kosong. Ada sisa plastic yang terinjak-injak disana, dan ada beberapa petugas hilir mudik.. seolah menjelaskan apa yang terjadi pagi tadi..



Hmmh.. gak tau perasaan saya seketika kebas,, gak bisa digambarkan sedih banget pokoknya..



Mungkin keberadaan pedagang- pedagang itu bikin gak rapih, ga nyaman, tapi kenapa hanya untuk sebuah kenyamanan mungkin saja harus ada hidup yang terkorbankan?

Dan saya sedih, saya mungkin antagonis disana, mungkin PT KAI melakukan penertiban itu untuk kenyamanan kami para pengguna jasa, dan ternyata harus melibas hidup beberapa dari kami yang sesungguhnya sama, hanya cari rezeki.



Saya jadi ingat, bapak tua yang mengemis tiap pagi bersama istrinya yang lumpuh, atau sekeluarga yang mengamen di pintu masuk stasiun menyanyikan lagu qasidah, dan wajah nurul dan adiknya yang selalu semangat setiap ada kereta yang berhenti..



Hmmh. Saya sesak dengan ini semua, kasihan, saya gak tau kemana mereka sekarang. Saya juga gak tau apa mau pemerintah, preman dilarang, tapi yang jualan pun gak boleh.. miris.. gak mungkin kan semua orang cari rezeki dengan cara kerja di kantor dan berseragam..



Yah sore ini saya berharap, nurul menunggu saya di tiang itu, semoga saya ketemu dia sore ini.



Nb: Nurul, kita ketemu yah,, kk bawa buku banyak.







Nurul Ainul Mardiyah



17/02/2009.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar